Tampilkan postingan dengan label F. Banjaran tokoh Reog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label F. Banjaran tokoh Reog. Tampilkan semua postingan
Sugriwa dan Subali
Jumat, 01 Juli 2011
Goa Kiskenda adalah sebuah goa besar yang didalamnya berbentuk seperti istana. Goa Kiskenda merupakan tempat tinggal Maesasura dan Lembusura, dua makluk kakak beradik, berbadan manusia berkepala binatang
yang memiliki kesaktian luar biasa. Rakyat Goa Kiskenda merupakan beraneka macam hewan ganas. Maesasura dan Lembusura memimpin kerajaan itu dengan sewenang-wenang. Kesaktian yang mereka miliki sangat luar biasa dahsyat.
Suatu saat mereka datang ke Kahyangan mengajukan keinginannya untuk memperistri Dewi Tara putri sang Bathara Indra. Sikap biadad itu menimbulkan kemarahan dewata. Para dewa serta merta menolak mentah-mentah
lamaran tersebut. Dua saudara itu tidak bisa menerima penolakan itu. Mereka lalu mengamuk ke Kahyangan.
Ribuan tentara biantang dikerahkan untuk menyerang kahyangan. Karena kesaktian keduanya sangat dahsyat,
tak satupun para dewa yang dapat mengalahkan Maesasura dan Lembusura.
Dalam keadaan demikian, Bathara Guru mencari cara untuk menumpas wadyabala Goa Kiskenda. Hanya ada satu
cara yaitu dengan menggunakan kesaktian kadewatan yang maha dahsyat utnuk mengalahkan mereka. Kesaktian itu bernama aji Pancasona. Namun yang dapat menerimanya harus dia yang berhati luhur dan seorang suci yang
mampu mengendalikan segala nafsunya sehingga kesaktian maha dahsyat itu tidak digunakan sewenang-wenang.
Para dewa sepakat untuk menyerahkan kesaktian itu ke Subali putra Resi Gotama yang sedang bertapa di Suryapringga. Bertahun-tahun mereka bertapa mematikan seluruh raga dan memusatkan seluruh pancaran jiwa mereka kepada Sang Pencipta. Tujuan mereka hanya satu memohon ampun kepada dewata atas segala perbuatan yang telah mereka lakukan. Suasana hening menjadi semarak saat Bathara Guru ditemani oleh Bathara Narada dan para dewa turun ke marcapada menemui mereka. Subali dan Sugriwa segera dibangunkan dari pertapaannya. Dan berkatalah sang raja dewa bahwa permohonan mereka akan dikabulkan dengan syarat mereka harus menumpas terlebih dahulu angkara murka yang kini bersemayam di tubuh Maesasura dan Lembusura. Subali dan Sugriwa bersedia. Dan sebelum mereka berangkat secara khusus, Bathara Guru menganugerahkan aji Pancasona kepada Subali dengan harapan Subali dapat menggunakannya demi perdamaian di alam ini.
Dengan kesungguhan hati, Subali dan Sugriwa berangkat ke Goa Kiskenda. Di mulut gua, Subali berpesan pada
adiknya untuk waspada dan siap berjaga-jaga. Apabila keluar cairan darah berwarna merah, maka dapat
dipastikan bahwa seluruh musuh telah sirna dari muka bumi ini. Namun apabila terjadi genangan darah putih
mengalir keluar gua, maka Sugriwa harus segera menutup pintu gua. Setelah Sugriwa menyanggupi, Subali
langsung masuk kedalam melabrak Maesasura dan Lembusura.
Pertempuran antara makhluk-makhluk sakti itu tidak dapat dielakkan. Dinding gua seakan runtuh menahan gempuran kesaktian dari kedua belah pihak. Dan hanya berkat kesaktian Subali yang memiliki ajian Pancasona,
Maesasura dan Lembusura dapat dibinasakan. Kepala keduanya diadu sehingga pecah berantakan. Otak dari
Maesasura dan Lembusura hancur berantakan sehingga meleleh keluar gua. Dari luar gua, Sugriwa menantidengan harap cemas. Dan betapa hancur hati Sugriwa ketika mengetahui bahwa cairan yang mengalir berwarna merah dan putih. Ini berarti Subali mati bersama musuh-musuhnya. Dengan panik Sugriwa mengerahkan seluruh tenaganya dan menghancurkan pintu gua sehingga pintu gua kiskenda tertutup. Dengan kepedihan hati, Sugriwa segera melaporkan hal ini ke kahyangan.
Keadaan menjadi gembira tatkala para dewata mengetahui kabar matinya Maesasura dan Lembusura. Namun keadaan itu berubah menjadi duka saat mengetahui Subali juga mati dalam pertempuran itu. Sugriwa yang telah
melaporkan itu kemudian dianugerahi hadiah untuk mempersunting Dewi Tara. Tak lama setelah perkawinan
itu Subali tiba-tiba muncul di tengah-tengah keramaian. Subali mengamuk dan menganggap Sugriwa telah mengkhianati dirinya. Sugriwa yang terkejut belum sempat mejelaskan apa-apa sudah langsung dihajar oleh Subali. Kesaktian Subali yang berada jauh diatas Sugriwa membuat Sugriwa semakin tidak berdaya. Bathara Guru datang melerai dan panjang lebar menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
Mendengar hal itu Subali menyesal dan dengan pilu meminta maaf pada adiknya. Cinta Sugriwa yang besar kepada kakaknya itu membuatnya menerima semua yang telah terjadi. Akhirnya Subali yang sudah berdharma sebagai brahmana, menyerahkan goa Kiskenda dan Dewi Tara kepada Sugriwa. Sugriwa kemudian membangun kerajaan kera yang diberi nama Pancawati, sementara Subali melanjutkan tapa bratanya.
Gua Kiskenda terletak di Dusun Sebolong Kecamatan Girimulyo Kabupaten Kulon Progo DIY, beberapa kilometer dari padepokan saya. Ornamen stalagtit dan stalagnit di dalam gua menggambarkan kisah Maesa Suro-Lembu Suro hingga runtuhnya kerajaan Gua Kiskendo.
Di dalam Gua Ksikendo tersebut terdapat beberapa pertapaan, salah satunya pertapaan ledhek, yang kerap kali di gunakan bertapa para calon sinden dan dalang agar mendapatkan kesuksesan karir, soal hasilnya wallahu alam bisawab…
Versi lain Kisah Gua Kiskenda yang saya dengar, menjelang ajalnya Subali bermaksud memberikan aji pancasona ke Sugriwa. Namun karena kecurigaan dan ketidakpercayaannya Sugriwa tidak mau mendekat kepada Subali meskipun kondisinya sudah sekarat. Pada cerita itu, Subali digambarkan masih mempunyai sifat licik. Singkat cerita akhirnya Aji Pancasona jatuh ke tangan Raja Alengka Rahwana raja.
Banjaran Werkudara
BIMA atau WERKUDARA dikenal pula dengan nama;
Balawa,
Bratasena,
Birawa,
Dandunwacana,
Nagata,
Kusumayuda,
Kowara,
Kusumadilaga,
Pandusiwi,
Bayusuta,
Sena, atau Wijasena.
Bima putra kedua Prabu Pandu, raja Negara Astina dengan Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura.
Bima mempunyai dua orang saudara kandung bernama: Puntadewa dan Arjuna, serta 2 orang saudara lain ibu, yaitu ; Nakula dan Sadewa.
Bima memililki sifat dan perwatakan; gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur.
Bima memiliki keistimewaan ahli bermain ganda dan memiliki berbagai senjata antara lain; Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta, sedangkan ajian yang dimiliki adalah ; Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu dan Aji Blabakpangantol-antol.
Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran yaitu; Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain; Kampuh/kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan pupuk Pudak Jarot Asem.
Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah negara Amarta.
Bima mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu :
Balawa,
Bratasena,
Birawa,
Dandunwacana,
Nagata,
Kusumayuda,
Kowara,
Kusumadilaga,
Pandusiwi,
Bayusuta,
Sena, atau Wijasena.
Bima putra kedua Prabu Pandu, raja Negara Astina dengan Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura.
Bima mempunyai dua orang saudara kandung bernama: Puntadewa dan Arjuna, serta 2 orang saudara lain ibu, yaitu ; Nakula dan Sadewa.
Bima memililki sifat dan perwatakan; gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur.
Bima memiliki keistimewaan ahli bermain ganda dan memiliki berbagai senjata antara lain; Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta, sedangkan ajian yang dimiliki adalah ; Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu dan Aji Blabakpangantol-antol.
Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran yaitu; Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain; Kampuh/kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan pupuk Pudak Jarot Asem.
Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah negara Amarta.
Bima mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu :
1. Dewi Nagagini, berputra Arya Anantareja,
2. Dewi Arimbi, berputra Raden Gatotkaca dan
3. Dewi Urangayu, berputra Arya Anantasena.
Akhir riwayat Bima diceritakan, mati sempurna (moksa) bersama ke empat saudaranya setelah akhir perang Bharatayuda.
Akhir riwayat Bima diceritakan, mati sempurna (moksa) bersama ke empat saudaranya setelah akhir perang Bharatayuda.
Banjaran Arjuna
ARJUNA adalah putra Prabu Pandudewanata, raja negara Astinapura dengan Dewi Kunti/Dewi Prita putri Prabu Basukunti, raja negara Mandura.
Arjuna merupakan anak ke-tiga dari lima bersaudara satu ayah, yang dikenal dengan nama Pandawa.
Dua saudara satu ibu adalah Puntadewa dan Bima/Werkudara.
Sedangkan dua saudara lain ibu, putra Pandu dengan Dewi Madrim adalah Nakula dan Sadewa.
Arjuna seorang satria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu.
Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana.
Arjuna pernah menjadi Pandita di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning.
Arjuna dijadikan jago kadewatan membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka.
Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Kaindran bergelar Prabu Karitin dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain ; Gendewa ( dari Bathara Indra ), Panah Ardadadali ( dari Bathara Kuwera ), Panah Cundamanik ( dari Bathara Narada ).
Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain ; Keris Kiai Kalanadah, Panah Sangkali ( dari Resi Durna ), Panah Candranila, Panah Sirsha, Keris Kiai Sarotama, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni ( diberikan pada Abimanyu ), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton ( pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani ) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama.
Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak.
Adapun istri dan anak-anaknya adalah :
Arjuna merupakan anak ke-tiga dari lima bersaudara satu ayah, yang dikenal dengan nama Pandawa.
Dua saudara satu ibu adalah Puntadewa dan Bima/Werkudara.
Sedangkan dua saudara lain ibu, putra Pandu dengan Dewi Madrim adalah Nakula dan Sadewa.
Arjuna seorang satria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu.
Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana.
Arjuna pernah menjadi Pandita di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning.
Arjuna dijadikan jago kadewatan membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka.
Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Kaindran bergelar Prabu Karitin dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain ; Gendewa ( dari Bathara Indra ), Panah Ardadadali ( dari Bathara Kuwera ), Panah Cundamanik ( dari Bathara Narada ).
Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain ; Keris Kiai Kalanadah, Panah Sangkali ( dari Resi Durna ), Panah Candranila, Panah Sirsha, Keris Kiai Sarotama, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni ( diberikan pada Abimanyu ), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton ( pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani ) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama.
Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak.
Adapun istri dan anak-anaknya adalah :
1. Dewi Sumbadra , berputra Raden Abimanyu.
2. Dewi Larasati , berputra Raden Sumitra dan Bratalaras.
3. Dewi Srikandi
4. Dewi Ulupi/Palupi , berputra Bambang Irawan
5. Dewi Jimambang , berputra Kumaladewa dan Kumalasakti
6. Dewi Ratri , berputra Bambang Wijanarka
7. Dewi Dresanala , berputra Raden Wisanggeni
8. Dewi Wilutama , berputra Bambang Wilugangga
9. Dewi Manuhara , berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati
10. Dewi Supraba , berputra Raden Prabakusuma
11. Dewi Antakawulan , berputra Bambang Antakadewa
12. Dewi Maeswara
13. Dewi Retno Kasimpar
14. Dewi Juwitaningrat , berputra Bambang Sumbada
15. Dewi Dyah Sarimaya.
Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu ; Kampuh/Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).
Arjuna juga banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain ; Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Bathara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Danasmara ( perayu ulung ) dan Margana ( suka menolong ).
Arjuna memiliki sifat perwatakan ; Cerdik pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah.
Arjuna memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bhatarayuda, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata.
Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia muksa ( mati sempurna ) bersama ke-empat saudaranya yang lain.
Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu ; Kampuh/Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).
Arjuna juga banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain ; Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Bathara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Danasmara ( perayu ulung ) dan Margana ( suka menolong ).
Arjuna memiliki sifat perwatakan ; Cerdik pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah.
Arjuna memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bhatarayuda, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata.
Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia muksa ( mati sempurna ) bersama ke-empat saudaranya yang lain.
RADEN ARJUNA
Arjuna banyak nama lainnya. Arjuna sendiri berarti air jernih tak membekas. Di antara nama-namanya yang lain terdapat: 1. Kumbawali, yang berarti sebagai tempat rasa, 2. Parta, yang berarti berbudi sentausa, 3. Margana, yang berarti bisa terbang, 4. Panduputra, putra Pandu, 5. Kuntadi, yang berarti panah sakti, 6. Endratanaya, yang berarti anak angkat Betara Endra, 7. Prabu Kariti, yang berarti mendapat anugerah Dewa untuk menjadi raja di Tejamaya (tempat Dewa), karena jaya dalam perang atas titah Dewa, 8. Palguna karena dilahirkan di musim Palguna, yakni musim VIII dan karena bisa menaksir kekuatan perang musuh, dan 9. Dananjaya yang berarti menjauhkan diri dari soal-soal harta benda. Sesudah termasuk golongan tua, Arjuna tak mau lagi menggunakan pakaian keemasannya. Akhirnya Arjuna disebut juga titisan Hyang Wisnu.
Arjuna bermata jaitan, berhidung mancung, bersanggul kadal menek, bersunting waderan, tak berpakaian serba keemasan dan permata. Berkain bokongan ksatria.
Arjuna berwanda: 1. Jimat, karangan Panembahan Senapati dan juga Sinuhun Sultan Agung di Mataram, 2. Mangu, karangan Sinuhun Sultan Agung di Mataram, 3. Kanyut, 4. Kinanti, dan 5. Malat.
Wanda Jimat untuk wayang Arjuna adalah asli dari wayang Kraton Surakarta, sebab wanda Jimat itu digunakan bagi wayang sekotak yang disebut juga Kyai Jimat. Tidak boleh dimainkan oleh sembarang dalang wayang itu dan hanya dimainkan oleh raja atau pangeran.
Banjaran Anoman
Anoman kera berbulu putih seperti kapas. Ia adalah anak Betara Guru dengan Dewi Anjani, seorang putri bermuka dan bertangan kera.
Anoman juga bernama: 1. Maruti, karena mempunyai angin, seperti juga Raden Wrekodara dan oleh karenanya Anoman disebut juga saudara Wrekodara yang berkesaktian angin; 2. Ramadayapati, berarti yang diaku anak oleh Sri Rama; 3. Bayutanaya, berarti yang diaku anak Betara Bayu; 4. Kapiwara, berarti pendeta kera; dan 5. Anjaniputra, putra Dewi Anjani.
Bermula Anoman hidup pada jaman Sri Rama, membela Sri Rama
pada waktu kehilangan permaisurinya, Dewi Sinta,yang dicuri oleh raja raksasa Prabu Dasamuka dari negara Alengka. Anoman mendapat titah dari Sri Rama untuk menemui Dewi Sinta yang disembunyikan oleh Dasamuka di Alengka di sebuah taman bernama Taman Arga Soka. Anoman berhasil membawa kembali Dewi Sinta ke hadapan Sri Rama. Setibanya di Alengka, Anoman membakar istana Alengka hingga habis menjadi abu. Besarlah pembelaan Anoman bagi Sri Rama. Anoman berusia sampai lanjut.
Sehabis jaman Sri Rama, tiba jaman Pendawa, pada jaman mana Anoman mengasuh kelima Pendawa dan bertempat kediaman sebagai pendeta kera di Kendalisada. Anoman selalu menjadi tempat bertanya orang perihal yang sulit-sulit, karena dianggap sebagai pendeta yang waspada.
Anoman bermata plelengan putih, berhidung dan bermulut kera. Bersanggul kadal menek bersambung dengan ekornya yang memanjang dari bawah hingga menutupi sanggulnya dan dihiasi dengan gelang. Bergelang, berpontoh, dan berkeroncong. Berkuku pancanaka seperti Wrekodara. Berkaki kera. Berkain poleng seperti Wrekodara bentuk raton lengkap tak bertopong. Cat muka dan seluruh tubuhnya putih, menandakan bahwa ia kera ulas putih.
Tingkah laku Anoman pada waktu melaksanakan titah Sri Rama mencari Dewi Sinta, diceritakan sebagai berikut:
Jawa
Anoman melumpat sampun, prapteng witing nagasari,
mulat mangandap katingal, wanodya yu kuru aking,
gelung rusak awor lemah, kang iga-iga kaeksi.
Indonesia
Anoman telah meloncat, tiba di pohon nagasari,
memandang ke bawah tertampak seorang putri kurus kering, sanggul rusak terkena tanah, terlihatlah tulang rusuknya.
Ucapan ini dikenal secara meluas di dalam masyarakat Jawa.
Banjaran Prabu Baladewa
PRABU BALADEWA yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu Basudewa, raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra/Maekah (Jawa).
Baladewa lahir kembar bersama adiknya, Narayana dan mempunyai adik lain ibu bernama: Dewi Sumbadra/Dewi Lara Ireng, putri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Badrahini.
Baladewa juga mempunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton Mandura.
Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana.
Baladewa sangat mahir dalam olah ketrampilan mempergunakan gada, hingga Bima dan Duryudana berguru kepadanya.
Baladewa mempunyai dua pusaka sakti; Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Bathara Brahma.
Baladewa juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, putri Prabu Salya dengan Dewi Setyawati/Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama : Wisata dan Wimuka.
Prabu Baladewa diyakini sebagi titisan Sanghyang Basuki, Dewa keselamatan.
Baladewa berumur sangat panjang.
Setelah selesai perang Bharatayuda, Prabu Baladewa menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara Astina setelah Prabu Kalimataya/Prabu Puntadewa, dengan gelar Resi Balarama.
Baladewa mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Yadawa.
Baladewa lahir kembar bersama adiknya, Narayana dan mempunyai adik lain ibu bernama: Dewi Sumbadra/Dewi Lara Ireng, putri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Badrahini.
Baladewa juga mempunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton Mandura.
Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana.
Baladewa sangat mahir dalam olah ketrampilan mempergunakan gada, hingga Bima dan Duryudana berguru kepadanya.
Baladewa mempunyai dua pusaka sakti; Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Bathara Brahma.
Baladewa juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, putri Prabu Salya dengan Dewi Setyawati/Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama : Wisata dan Wimuka.
Prabu Baladewa diyakini sebagi titisan Sanghyang Basuki, Dewa keselamatan.
Baladewa berumur sangat panjang.
Setelah selesai perang Bharatayuda, Prabu Baladewa menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara Astina setelah Prabu Kalimataya/Prabu Puntadewa, dengan gelar Resi Balarama.
Baladewa mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Yadawa.
PRABU BALADEWA
Ketika Kakrasana bertakhta sebagai raja negara Madura, ia bergelar Prabu Baladewa. Ia naik takhta kerajaan, sesudah diambil menantu oleh Prabu Salya raja Madraka. Pada waktu itulah ia menggunakan nama Prabu Baladewa, sebab pada waktu perkawinannya ia dikerumuni oleh para dewa. Dan pada waktu itu pula ia mendapat dari Betara Guru senjata Alugora. Oleh para Dewa ia juga diberi nama Kusumawalikita, Balarama dan Basukiyana. Hyang Narada memberikan kepadanya nama Alayuda.
Setelah menjadi raja ia memihak Korawa dan bermusuhan dengan Pendawa, saudara-saudara misannya. Karena kesaktiannya, Baladewa oleh Sri Kresna dianggap seseorang yang tak ada tandingnya. Maka sewaktu perang Baraayuda hampir pecah, ia ditipu oleh Sri Kresna, supaya bertapa di Grojogan Sewu.
Maksud Prabu Kresna mengasingkan Prabu Baladewa ke Grojogan Sewu (air terjun seribu jeram) ialah oleh karena Prabu Kresna mengetahui, bahwa Prabu Baladewa takkan ada lawannya di dalam perang dan juga karena mengetahui, bahwa Baladewa di dalam perang akan memihak Korawa, sehingga akan menyukarkan perlawanan pihak Pendawa. Oleh karena Prabu Kresna memberatkan pihak Pendawa, maka ia pun berdaya upaya, supaya di dalam perang Baratayuda Pendawalah yang menang.
Sesudah mendapat nasihat dari Prabu Kresna itu, bertapalah Prabu Baladewa di Grojogan Sewu.
Ketika pada suatu hari ia melihat bahwa di air terjun itu adalah darah, mendugalah Prabu Baladewa, bahwa perang Baratayuda telah terjadi.
Sehabis perang Prabu Baladewa kembali ke negara Astina dan mengetahui, bahwa keluarga Korawa telah habis tewas di medan perang. Kemudian Prabu Baladewa ikut dengan Pendawa dan hingga tutup usia ikut mengasuh Prabu Parikesit.
Prabu Baladewa mempunyai senjata bernama Nanggala yang demikian saktinya, hingga Dewa pun tak dapat menghadapinya.
Ditinjau dari segi kekeluangaan, Prabu Baladewa seharusnya memihak Pendawa, sebab ia adalah saudara sepupu putra-putra Pendawa dan tarikan kekeluargaannya sebenarnya lebih kuat kesitu. Tetapi oleh karena ia adalah menantu Prabu Salya dan merasa, bahwa ia telah mendapatkan kemuliaannya di Astina, maka ia pun memberatkan Astina.
Prabu Baladewa bermata kedondongan, berhidung dan bermuka serba lengkap, bermahkota dengan jamang tiga susun dan garuda membelakang. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Berkain katongan.
Prabu Baladewa berwanda: 1. Geger (istilah diambil dan karangan Susuhunan Anyakrawati yang wafat di Krapyak), 2. Kaget, 3. Sembada 4. Paripeksa dan 5. Rayung. (Reog Seneng Barang Jatirejo)





