Gerakan Dasar Gaya Mataram

Jumat, 14 Oktober 2011






Penjiwaan merupakan dasar filsafat seni tari Yogyakarta yang dikenal istilah “Joged Mataram” terdiri dari empat (4) dasar yaitu 
1)sawiji (kosentrasi total),  
2)greged (dinamika atau semangat),
3)sengguh (percaya diri) serta  
4)ora mingkuh (pantang mundur).

REOG BUNDER PART I

Reog Bunder beralamat di Dusun Bunder 2 Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo adalah group reog kedua yang "meninba" ilmu bersama Reog Seneng Bareng Jatirejo. Semenjang 3 minggu yang lalu, telah dengan rutin mengadakan latihan. Pada awalnya Reog Bunder akan "giyar" pada tanggal 9 Oktober 2011, karena berbagai pertimbangan diantaranya masih kurang layak pentas dan kebetulan ada "hajat Desa" yang tidak bisa ditinggalkan akhirnya pentas diundur pada hari Minggu, tanggal 16 Oktober 2011.
Reog bunder sengaja kami bikin "ndeles" agar gerak dan karakter wayang yang diperankan oleh masih-masing tokoh mempunyai "rasa" dalam setiap jogednya. Karena pada umumnya perkembangan kreasi gerak reog di daerah kami tidak lagi memperhatikan "paugeran" joged. Kebanyakan hanya mengutamakan "regeng dan gumyak" saja. Bagi kami, walaupun reog adalah kesenian "kebon" namun tetep harus bergerak dalam garis edarnya. Akhirnya kami berharap semoga pentas yang akan dilaksanakan besok lusa dapat berjalan dengan lancar.

Janturan Desa Jatirejo

Kamis, 01 September 2011


Swuh rep data pitana.
Nenggih desa pundi ta kang ka éka adi dasa purwa.
Eka sawiji adi linuwih, dasa sapuluh, purwa wiwitan.
Senadyan kathah titahing jawata ingkang kasangga
ing Pertiwi, kaungkulan ing angkasa, kapit ing bengawan lan sesabinan,
kathah ingkang samya anggana raras, nanging datan
kadi ing Desa nJatirejo.
Ngupaya satus datan antuk kekalih, sewu tan jangkep
sedasa, ora jeneng mokal lamun mangka bebukaning
carita. Dhasar Desa panjang punjung pasir wukir,
gemah ripah loh jinawi, karta tata raharja.
Panjang dawa pocapané, punjung dhuwur kawibawané,
pasir samodra, wukir gunung. Pranyata Desa nJatirejo
ngungkuraken pegunungan, ngeringaken bengawan
nengenaken pasabinan miwah ngayunaken bebandaran agung.
Gemah kathah para nangkuda kang lumaku dedagangan
anglur selur datan ana pedhoté, labet tan ana sangsayaning margi.
Ripah kathah para janma manca kang samya katrem
abebalé wisma ing salebeting dusun, jejel apipit bebasan aben
cukit tepung taritis, papan wiyar katingal rupak.
Loh subur kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku.
Karta para kawula ing padusunan mungkul pangolahing
tetanèn ingon-ingon kebo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan
rahina aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhange
dhéwé-dhéwé.
Raharja tegesé tebih ing parang muka, karana para mantri
bupati wicaksana limpating kawruh tan kendhat dènya
misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun
sumarambah para kawula dasih. Mila ora jeneng mokal lamun
Desa nJatirejo kena dibebasakaké jero tancepé, malembar
jenengé, kasup kasusra prajané.
Ora ngemungaké ing kanan-kéring kéwala senajan ing
praja maha praja kathah kang samya tumungkul datan
linawan karana bandayuda, amung kayungyun marang
pepoyaning kautaman bebasan kang cerak samya manglung
kang tebih samya mentiyung asok bulu bekti glondhong
pengareng-areng pèni-pèni raja pèni guru bakal guru dadi

Pertunjukan Seni Wayang Wong, Sebuah Legitimasi Hamengku Buwono VIII

Minggu, 28 Agustus 2011

Wayanng wong atau dalam bahasa Indonesia berarti wayang orang, telah muncul sejak awal berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sultan Hamengku Buwono I, adalah sang pelopor seni pertunjukan kesenian tersebut. Sama halnya dengan pertunjukan tari, pertunjukan wayang orang adalah sebuah pertunjukan yang khusus digelar untuk kalangan istana. Terutama untuk acara-acara kenegaraan.
Periode Hamengku Buwono VIII, adalah masa dimana kegiatan seni dan budaya, mencapai masa keemasan. Khususnya untuk seni wayang orang. Pertunjukan wayang orang masa Hamengku Buwono VIII, merupakan sesuatu yang sangat penting.

Keberadaan wayang orang yang telah menjadi satu bagian dengan upacara di keraton. Adalah hal yang wajib dipenuhi oleh seorang raja. Dengan kata lain, pertunjukan wayang orang adalah bagian dalam kehidupan Sultan. Sebagai bagian dalam kehidupan Sultan dan keraton, tentu ada hal yang melatar belakangi terselenggaranya pertunjukan wayang orang. Satu hal yang sangat penting dalam pertunjukan seni wayang orang adalah latar belakang politik. Di mana di dalamnya terdapat masalah ‘kapan’ waktu yang tepat untuk mengadakan pertunjukan. Waktu atau kesempatan yang tepat untuk mengadakan pertunjukan, sangat berkaitan erat dengan strategi politik Sultan dalam proses legitimasi.

Sebagai sebuah aturan bagi seseorang yang akan diangkat menjadi raja, diwajibkan untuk menandatangani kontrak politik. Di mana sebelumnya telah melalui perundingan antara calon raja dengan pihak Belanda. Tentu saja kontrak politik akan ‘membatasai’ gerak langkah sebagai seorang raja, sehingga tidak independen. Kebebasan politik sangat terkekang, bahkan terkesan terpaksa untuk melakukan sebuah kebijakan. Dipilihlah kegiatan seni dan budaya, sebagai sarana pengukuhan kekuasaan.

Ketidakmampuan Hamengku Buwono VIII secara politis dalam menghadapi Belanda, menjadikan wayang sebagai sarana berkomunikasi dengan rakyat. Karena wayang adalah sumber yang tak pernah kering dalam komunikasi masyarakat Jawa, demikian menurut Soemarsaid Moertono dalam bukunya, Negara dan Usaha Bina Negara di Jawa Masa Lampau: Studi Tentang Masa Mataram II Abad XVI sampai XIX.

Sebagai sarana ‘berkomunikasi’ dengan rakyat, berpaling pada seni wayang orang, adalah langkah lebih efektif daripada mencari cara baru dalam menghadapi tekanan politik. Sangat tidak masuk akal ketika kerajaan mengalami kemunduran secara politis, kemudian mencari-cari cara lain. Akan tetapi, justru dengan kemunduran dan tiadanya kesempatan politik, menyebabkan Kesultanan Yogyakarta memalingkan diri pada kegiatan lain, yaitu seni dan budaya.

Oleh karena itu, pertunjukan wayang orang di dalam keraton tidaklah main-main. Dengan kata lain, pertunjukan itu dilakukan secara besar-besaran, bahkan terkesan sangat megah. Selain itu, Sultan juga berusaha mengembangkan apa saja yang masih kurang dalam pertunjukan wayang orang, yang pernah dilakukan oleh para pendahulunya.

Sebagai sebuah pertunjukan yang berskala besar, tentunya penonton bukan hanya datang dari kalangan pribumi, melainkan para bangsawan Belanda. Kebanyakan dari mereka sangat antusias dalam menikmati pertunjukan wayang orang, meskipun pertunjukan itu berlangsung berhari-hari.

Pertunjukan wayang orang diantaranya digunakan untuk merayakan ulang tahun Sultan, upacara pernikahan, maupun untuk menyambut tamu kenegaraan. Ketika Sultan merayakan tumbuk-dalem yang ke-7 atau ulang tahun ke-56, ada pergelaran wayang orang selama tiga hari, dengan tiga lakon, seperti: Samba Sebit, Rama Nitik, dan Rama Nitis. Pergelaran wayang wong besar-besaran untuk upacara perkawinan bagi putera-puterinya sebanyak empat kali, yaitu: 1) pada tahun 1926 dengan lakon Samba Sebit dan lakon Suciptahening Mintaraga; 2) pada bulan Februari 1928 dengan lakon Parta Krama, lakon Srikandhi Jemparingan (Srikandhi Meguru Manah), dan lakon Sembadra Larung; 3) pada bulan Juli 1929 dengan lakon Jayapusaka; 4) pada bulan Maret 1939 dengan lakon Pregiwa-Pregiwati, lakon Rabinipun Angkawijaya, dan lakon Rabinipun Pancawala.

Bahkan untuk merayakan perkawinan antara Puteri Juliana dari kerajaan Belanda dengan Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld, pada bulan Januari 1937 diselenggarakan pergelaran wayang wong di keraton Yogyakarta dengan lakon Suciptahening Mintaraga. Dalam pertunjukan wayang orang tersebut, para tamu juga diberikan sajian makanan yang sangat mewah. Dengan kata lain mereka bak tamu agung.

Usaha pementasan wayang orang secara besar-besaran harus dilakukan Sultan, mengingat sangat pentingnya nilai sebuah pergelaran wayang orang bagi keraton dan Sultan sendiri.

Curiga Manjing Warangka, Warangka Manjing Curiga

Minggu, 14 Agustus 2011

Artinya, curiga manjing warangka (keris masuk sarungnya), warangka manjing curiga (karung keris masuk kerisnya). Peribahasa ini merupakan gambaran dari cita-cita ideal tentang hubungan pemimpin dengan raknyatnya di Jawa. Dimana pemimpin memahami aspirasi rakyat dan mau menyantuni mereka dengan baik, sehingga rakyat bersedia mengabdikan diri dengan ikhlas kepada sang pemimpin.
Hakikatnya, pemimpin memang harus menjaga, mengayomi, menata, dan menghidupkan semangat rakyat untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya, rakyat pun harus bersedia “mengabdikan diri” kepada pemimpin, dengan cara melaksanakan segala kebijakannya, sehingga terjadi harmonisasi dalam tata kehidupan masyarakat.
Dalam konteks ungkapan tersebut, pemimpin dilambangkan sebagai keris yang dimasukkan ke dalam sarungnya (masyarakat yang dipimpin). Dengan demikian, tentu akan bermasalah jika keris terlampau panjang atau sarungnya terlalu pendek. Akan tidak masuk juga ketika keris terlampau besar atau sarungnya begitu kecil, dan selanjutnya. Demikian pula hubungan antara pemimpin dan rakyatnya. Kehidupan di sana akan senantiasa dirundung masalah jika terjadi ketidaksesuaian, ketidakserasian, perbedaan sikap, pendapat, pikiran, serta orientasi dari masing-masing pihak.

Adedamar Tanggal Pisan Kapurnaman

Jumat, 12 Agustus 2011

Artinya, adedamar (menerangi dengan pelita), tanggal pisan (tanggal satu atau tanggal muda), kapurnaman (diterangi sinar bulan purnama). Jika diterjemahkan secara bebas adalah semula akan menggunakan pelita karena masih gelap, namun tiba-tiba malam menjadi terang karena disinari bulan purnama.
Peribahasa ini menggambarkan orang yang bertikai dan salah satu pihak mengadukan pihak lain ke pengadilan. Namun, beberapa waktu kemudian, perkara itu dibatalkan karena yang bersangkutan memperoleh kesadaran, lebih baik perkara itu diselesaikan secara damai dan kekeluargaan.
Sebagai contoh, ada dua orang bersaudara kandung yang bertengkar memperebutkan harta warisan dari orang tua mereka. Lantaran tidak ada surat waris, dan masing-masing tidak mau mengalah, maka keduanya sepakat menggunakan jalur hukum untuk memperoleh keputusan. Namun, kemudian keduanya disadarkan oleh petunjuk seorang ulama, bahwa Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan bagaimana cara membagi warisan yang adil menurut Islam. Akhirnya, mereka memilih damai dan membagi warisan tersebut sesuai dengan hukum waris agama yang dianut. δ

Blilu Tau Pinter Durung Nglakoni

Senin, 08 Agustus 2011

Artinya, blilu tau (bodoh pernah), pinter durung nglakoni (pandai belum mengalami). Bila diterjemahkan secara bebas adalah pernah menjadi si bodoh tetapi belum pernah menjadi si pandai. Ungkapan ini merupakan gambaran dari orang yang tidak pandai dalam hal teori, tetapi cukup ahli (terampil) dalam mengerjakan sesuatu hal karena sudah berpengalaman. Contoh dari peribahasa ini adalah seorang petani. Jika diperhatikan, jarang petani yang ada di pedesaan yang berpendidikan tinggi. Tetapi, semuanya mampu bertani, bercocok tanam, dan beternak. Semuanya mereka lakukan dengan cukup andal. Dari mana ilmu pertanian (bertani) itu didapat.
Jawabannya cukup sederhana, yaitu dari pengalaman. Dari praktik keseharian sambil memperhatikan dan meniru bagaimana orang tua, saudara, atau tetangga melakukan pekerjaan tersebut. Pesan utama dari peribahasa ini adalah jangan takut mencoba mengerjakan segala sesuatu meskipun belum memiliki teori yang cukup. Artinya, memahat kayu, mencangkul sawah, dan sebagainya adalah bukan pekerjaan yang sulit. Dengan banyak mencoba dan tidak banyak keraguan kemudian mengerjakannya seperti orang lain melakukannya maka akan terampil juga. Asalkan berhati-hati, tekun, telaten, dan pantang menyerah. Memang, dalam hal ilmu, petani kalah dengan sarjana pertanian. Namun dengan pengalamannya, untuk menghasilkan padi, palawija, dan sayuran, keterampilan para petani dapat diandalkan. δ